Transjakarta merencanakan ekspansi rute baru ke wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) pada 2025 sebagai bagian dari upaya meningkatkan layanan. Menurut Direktur Operasional dan Keselamatan PT Transjakarta Daud Joseph, tambahan rute ini akan dilakukan dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Ia menegaskan bahwa keterjangkauan layanan Transjakarta telah mencapai 91,7 persen dari wilayah DKI Jakarta dan target optimal keterjangkauan ada di angka 92-93 persen.
Untuk memperluas jangkauan tersebut, Transjakarta juga mulai memanfaatkan rute yang sebelumnya digunakan oleh angkutan kota lama seperti Metromini dan Kopaja. Penambahan rute ini diharapkan bisa menjawab keluhan warga terkait keterbatasan akses angkutan umum di wilayah-wilayah tertentu, Buzztie. Misalnya, banyak warga penyangga Jakarta yang masih bergantung pada kendaraan pribadi untuk mencapai halte atau stasiun terdekat.
Daud juga menyampaikan bahwa kolaborasi dengan pemda dan pihak swasta sangat diperlukan dalam proses ini. Pemerintah Provinsi Jakarta, dalam beberapa kesempatan, sudah menegaskan pentingnya koordinasi lintas wilayah Jabodetabek untuk mengintegrasikan seluruh moda transportasi. Dengan begitu, rute-rute baru ini bisa lebih efektif dan berkelanjutan.
Ekspansi ini juga didorong oleh peningkatan jumlah penumpang. Tahun 2024, Transjakarta mencatat lebih dari 371 juta penumpang, meningkat signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi bukti bahwa masyarakat semakin memilih transportasi umum sebagai moda utama meski tantangan tetap ada dalam menjaga ketepatan waktu (headway).
Transjakarta berupaya meningkatkan integrasi layanan dengan moda transportasi lain di Jakarta, seperti MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan commuter line KRL Jabodetabek. Langkah ini penting untuk menciptakan sistem transportasi publik yang lebih efisien dan terjangkau bagi masyarakat. Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Haris Muhammadun menegaskan, meski jalur Transjakarta dan MRT beririsan, keduanya saling melengkapi dalam melayani kebutuhan perjalanan warga kota.
Salah satu bentuk integrasi utama adalah peluncuran sistem tiket multimoda berbasis waktu perjalanan, yaitu Pay As You Go (PAYG). Sistem ini memungkinkan pengguna untuk berganti moda transportasi dengan tarif maksimum Rp 10.000 per 180 menit perjalanan. Pengguna dapat berpindah dari Transjakarta ke MRT atau LRT tanpa perlu membeli tiket terpisah, yang membuat perjalanan lebih praktis dan hemat.
Selain itu, Transjakarta juga berperan sebagai moda penghubung (feeder) yang melayani daerah-daerah yang tidak terjangkau langsung oleh MRT atau LRT. Menurut Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta Ahmad Pratomo, kehadiran angkutan pengumpan ini berkontribusi hingga 23 persen dari total keterangkutan MRT Jakarta. Dengan rute-rute fleksibel, Transjakarta melengkapi layanan berbasis rel dalam mempermudah akses ke berbagai kawasan di Jabodetabek.
Tetapi, tantangan integrasi masih ada, terutama dalam memastikan ketepatan waktu dan kenyamanan layanan di setiap moda transportasi. Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan mengatakan, koordinasi di antara operator moda transportasi perlu terus ditingkatkan untuk menjamin pengalaman perjalanan yang mulus. Pemerintah juga harus lebih proaktif dalam memperluas akses ke halte dan stasiun agar warga dapat menjangkau transportasi umum tanpa perlu bergantung pada kendaraan pribadi atau ojek daring.


