Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Selasa (28/1) sore mengakibatkan sejumlah wilayah di Ibu Kota terendam banjir. Hingga Rabu (29/1) malam, genangan air masih merendam beberapa ruas jalan dan kawasan penduduk dengan ketinggian bervariasi. Akibatnya, ribuan warga pun terpaksa mengungsi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, Jakarta sedang mengalami puncak musim hujan dengan curah hujan yang tinggi. Hujan lebat membuat air sungai cepat meluap, merendam jalan dan permukiman. Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir terjadi di sejumlah titik di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Ketinggian air bervariasi, mulai dari semata kaki hingga setinggi dada orang dewasa, Buzztie.
Di Jakarta Utara, wilayah Kelapa Gading menjadi salah satu area yang terdampak paling parah. Jalan Boulevard Barat Raya menuju Bundaran Mall Kelapa Gading (MKG) terendam banjir. Sejumlah pengendara roda dua dan roda empat nekat menerobos genangan setinggi 50 centi meter (cm). Beberapa di antaranya mogok dan terpaksa didorong.
Banjir juga melanda kawasan pusat perbelanjaan Lotte Mart serta pertokoan di Jalan Boulevard Barat Raya. Sejumlah akses perumahan di Kelapa Gading turut terdampak, termasuk Jalan Gading Kirana yang berada di sebelah Lotte Mart.
Di Jakarta Pusat, banjir setinggi 30 cm juga sempat menggenangi Jalan Medan Merdeka Barat yang berada di sekitar Monumen Nasional (Monas) pada Selasa (28/1) malam. Namun, pada Rabu (29/1) dini hari sudah surut.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan melaporkan, hingga Rabu (29/1) pukul 17.00 WIB, banjir masih merendam 36 RT dan 16 ruas jalan di Ibu Kota.
Mayoritas wilayah terdampak berada di Jakarta Barat, dengan 34 RT terendam. Sementara itu, masing-masing satu RT di Jakarta Utara dan Jakarta Timur juga mengalami banjir. “Ketinggian air berkisar antara 30 hingga 100 cm,” ujar Yohan.
Titik-titik banjir di Jakarta Barat terdapat di Kelurahan Kaliangke, Tegal Alur, Kalideres, Cengkareng Barat, Tanjung Duren Utara, Rawa Buaya, hingga Jelambar. Ketinggian air itu mencapai satu meter.
Selain itu, banjir juga terjadi di wilayah Jakarta Timur. Tercatat masih ada di 1 RT di Kelurahan Bidara Cina.
“Total warga mengungsi 2.808 jiwa tersebar di sejumlah titik pengungsian,” kata Yohan. Dia menambahkan pengungsi tersebar di kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Timur.
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi mengklaim, pihaknya telah melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi banjir di Ibu Kota. Namun, hujan ekstrem yang terjadi pada Selasa (28/1) di luar prediksi.
Menurut Teguh, berdasarkan informasi dari BMKG, hujan yang diperkirakan hanya berintensitas sedang hingga lebat ternyata berubah menjadi cuaca ekstrem. “Petang hingga malam kemarin, hujan sangat lebat, bahkan setara dengan kejadian banjir pada 2020-2021,” ujar Teguh saat ditemui di TMII, Jakarta Timur, Rabu (29/1).
Meski demikian, Teguh bersyukur karena kondisi Bendung Katulampa pada Selasa malam masih terpantau normal. Hal ini membuat banjir hanya terjadi di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur.
“Saya sudah menginstruksikan kesiapsiagaan sejak beberapa hari lalu, sehingga semua bisa bergerak cepat. Meski kita prihatin dengan musibah ini, genangan sudah bisa dilokalisir,” ujar Teguh.
Tapi, ia mengakui, upaya yang dilakukan belum sepenuhnya mencegah genangan dan banjir di beberapa wilayah. Menurutnya, daya tampung infrastruktur pengendalian banjir di Jakarta saat ini hanya mampu menampung hingga 150 milimeter (mm) curah hujan per hari.
“Nah kemarin, tadi malam itu, curah hujannya sampai dengan 368 milimeter,” ungkapnya.
Sebelumnya, Teguh meninjau titik genangan yang ada di kawasan Tanjung Duren, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada Rabu sekira pukul 01.20 WIB. Ia datang bersama Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin mengecek pompa air yang ada di sana.
Sekretaris Dinas SDA DKI Jakarta Hendri mengungkapkan, penyebab fenomena banjir di Jakarta pada Selasa (28/1) dipicu oleh hujan ekstrem dengan intensitas lebat dan sangat lebat. Hendri mencatat, di beberapa wilayah di Jakarta, intensitas curah hujan mencapai 368 mm per hari. Hal tersebut menyebabkan banjir di Jakarta.
“Untuk meminimalkan potensi luapan kali Ciliwung, Sodetan Ciliwung telah beroperasi dengan dibukanya pintu air tersebut,” cetusnya.


