Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencabut peringatan risiko tsunami seiring menurunnya aktivitas erupsi Gunung Ruang di Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara pada Minggu (21/04). Meski begitu, level Gunung Ruang masih tetap di level IV (Awas).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ribuan warga mengungsi ke sejumlah titik akibat dampak erupsi Gunung Ruang.
Hasil pendataan sementara yang dihimpun Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB per Sabtu (20/04) pukul 14.00 WIB, sebanyak 10 desa dan dua kelurahan di Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro, telah terdampak material vulkanik Gunung Ruang. Mulai dari hujan abu vulkanik disertai kerikil dan bebatuan. Saat erupsi seperti yang terjadi pada Selasa (16/04) hingga Rabu (17/04).
Ratusan warga Desa Laingpatehi, Pulau Ruang, mengungsi beberapa saat setelah Gunung Ruang mengalami erupsi besar pertama, pada Selasa (16/04).
Mereka diungsikan ke aula kantor Kecamatan Tagulandang—yang berada di seberang Pulau Ruang.
Sepanjang hidupnya, erupsi Gunung Ruang terjadi dua kali: sekarang dan September 2002 silam. Tetapi letusan yang terjadi saat ini lebih besar.
“Yang kami rasakan beda, sekarang ini [erupsi] lebih dahsyat. Pokoknya berbeda, sangat terasa kejadian erupsi sekarang.”
Merujuk pada sejarah, erupsi gunung yang terletak di Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara, ini pernah memicu tsunami setinggi 24 meter dan menewaskan sekitar 400 orang pada 1871 lampau.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut ancaman atau potensi tsunami yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Ruang semakin mengecil, seiring semakin berangsur turun intensitas erupsi gunung tersebut.
“Potensi erupsi besar menurun sehingga kecil kemungkinan potensi tsunami,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi, Hendra Gunawan, seperti dikutip dari Kompas.com, Sabtu (21/04).
Merujuk pemantauan visual yang dilakukan lembaganya pada Minggu (21/04) sekitar 12.00 WITA, terlihat asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi maksimal 200 meter dari puncak dan tidak teramati adanya erupsi.
“Hal ini menunjukkan adanya penurunan aktivitas erupsi di Gunung Ruang,” ucapnya.
Hasil pemantauan kegempaan tanggal Minggu (21/04) periode 00.00-12.00 WITA tercatat 25 kali gempa vulkanik dangkal dan 19 kali gempa vulkanik dalam.
“Potensi bahaya yang mungkin terjadi adalah erupsi eksplosif menghasilkan lontaran batu (pijar) ke segala arah yang bisa diikuti dengan awan panas maupun erupsi efusif (aliran lava),” ucapnya.
Sebelumnya, peralatan seismik yang terpasang untuk merekam aktivitas vulkanik gunung yang berada di Pulau Ruang mati akibat terdampak produk-produk erupsi Gunung Ruang.
Akibatnya, PVMBG pun tidak bisa membaca kegempaan Gunung Ruang sejak Rabu (17/04) pukul 20:39 Wita. Selain juga listrik di sana masih padam.
Tetapi saat ini, Tim PVMBG-Badan Geologi-Kementerian ESDM sudah memasang satu stasiun pemantauan berupa stasiun seismik di Pos PGA Ruang yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari puncak untuk memantau aktivitas Gunung Ruang.
“Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, aktivitas vulkanik Gunung Ruang masih tinggi, oleh karena itu tingkat aktivitas Gunung Ruang masih tetap di level IV (Awas),” ucapnya.
Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat tetap waspada dengan tidak memasuki radius 6 kilometer dari pusat kawah aktif.
Masyarakat yang bermukim di Pulau Tagulandang juga diminta waspadai potensi batuan pijar dan luruhan awan panas dan tetap menggunakan masker untuk menghindari paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu sistem pernapasan.


