Kemampuan chatbot buatan OpenAI, ChatGPT sedang menjadi perbincangan. Karena ChatGPT bisa menjawab beragam pertanyaan dengan lancar seperti seorang manusia, Buzztie. Bahkan beberapa waktu lalu ChatGPT bisa menjawab soal ujian masuk Google dan mendapatkan skor yang tinggi, Wah!
Saat itu, selama proses wawancara, ChatGPT mendapat pertanyaan yang beragam, mulai dari pertanyaan teknis yang mendasar sampai kasus koding.
ChatGPT successfully passed the interview and the answers provided allowed this OpenAI chatbot to be accepted as a level three engineer in a company with a high salary.
ChatGPT sendiri beberapa waktu lalu diuji dengan cara diberi soal dan wawancara seleksi karyawan di Google. Hasilnya, ChatGPT lolos dan kemampuannya setara dengan engineer level tiga.
“Hebat, ChatGPT dapat lolos dan mendapatkan posisi (teknisi) level tiga saat diwawancarai terkait posisi untuk pengkodean,” tulis seorang karyawan di catatan internal Google.
Gaji yang diperoleh teknisi level tiga sendiri adalah 183.000 dollar AS (sekitar Rp 2,77 miliar) per tahun. Selain wawancara Google, ChatGPT juga berhasil lolos ujian akhir di sekolah bisnis, ujian di empat mata pelajaran di sekolah hukum, dan ujian lisensi medis di Amerika Serikat.
Tapi siapa sangka kalau ChatGPT justru gagal ketika diberi soal ujian anak Sekolah Dasar. Media asal Singapura The Straits Times beberapa waktu lalu melakukan eksperimen kepada ChatGPT.
Pada eksperimen itu, ChatGPT diberikan soal ujian Primary School Leaving Exam (PSLE). Di Singapura, ujian ini dilakukan siswa Sekolah Dasar (SD) untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan berikutnya.
ChatGPT diberi soal matematika, sains, dan bahasa Inggris dari lembaran PSLE tahun 2020 sampai 2022. Alih-alih mendapatkan nilai bagus dan lolos dengan mudah, ChatGPT malah memperoleh nilai yang buruk. Rata-rata nilai ChatGPT adalah 16 (dari 100) untuk soal matematika yang dikerjakan.
Ketika pengerjaan, Chatbot ini nggak bisa memahami atau menjawab pertanyaan seputar diagram dan grafik sehingga mendapat nilai nol untuk soal tersebut. Chatbot buatan OpenAI itu juga nggak bisa menjawab pertanyaan penjumlahan yang sederhana.
ChatGPT kemudian mendapat nilai rata-rata 21 (dari 100) untuk mata pelajaran sains. ChatGPT mendapat hasil yang baik dalam ujian bahasa Inggris. AI ini mendapat nilai rata-rata 11 dari 20 untuk tiga lembar soal yang dikerjakan.
Walaupun begitu, chatbot ini masih mengalami kesulitan terutama untuk pertanyaan dengan kata bermakna ganda. Saat pertanyaan memuat kata “value” atau nilai, ChatGPT mengartikan kata tersebut dalam konteks keuangan. Padahal, “value” yang dimaksud dalam soal tersebut merujuk pada prinsip moral.
Let us know your thoughts, Buzztie!


