Para ilmuwan telah mengungkap negara mana yang memiliki paparan mikroplastik paling tinggi lewat makanan dan minuman. Dalam studi tersebut, Indonesia masuk daftar negara terparah paparan mikroplastiknya.
Mikroplastik mengacu pada partikel plastik berukuran sangat kecil kurang dari 5 milimeter, berasal dari penguraian sampah plastik berukuran lebih besar atau dari produk yang mengandung microbeads, seperti kosmetik.
Partikel plastik ini mengandung bahan kimia yang bisa mengganggu pelepasan hormon alami tubuh jika sampai masuk ke tubuh, sehingga berpotensi meningkatkan risiko gangguan reproduksi dan kanker tertentu. Mikroplastik juga dapat membawa racun di permukaannya seperti logam berat.
Masalahnya, mikroplastik ada di sekitar kita. Mikroplastik dapat ditemukan di tanah, air, bahkan udara. Faktanya, kita secara tidak sadar menelan plastik hampir setara ukuran kartu kredit setiap minggunya. Tapi, jumlah yang kita konsumsi sangat bervariasi, tergantung pada lokasi di mana kita tinggal, Buzztie.
Sekelompok ilmuwan dari Cornell University memeriksa data dari seluruh dunia untuk menentukan negara mana yang paling tinggi terpapar mikroplastik melalui berbagai metode konsumsi. Hasil temuannya dicatat dalam jurnal di Environmental Science & Technology.
Fengqi You, rekan penulis studi, mengatakan paparan mikroplastik bergantung pada sejumlah parameter berbeda. Faktor langsung mencakup paparan mikroplastik melalui makanan yang dipengaruhi oleh budaya pangan lokal dan konsentrasi mikroplastiknya, dan paparan mikroplastik di udara yang ditentukan oleh jumlah mikroplastik yang tersuspensi di udara.
Faktor tidak langsung meliputi dukungan ekonomi dan peraturan untuk pemantauan dan pembatasan mikroplastik dalam makanan dan bahan kemasan, serta laju industrialisasi dan timbal limbah.
Dalam hal paparan mikroplastik lewat makanan, negara-negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina menduduki peringkat teratas. Menurut studi tersebut, masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan, lebih banyak dibanding negara lain, dan sebagian besar berasal dari sumber air seperti makanan laut. Sebagai pembanding, paparan mikroplastik lewat makanan di AS sekitar 2,4 gram per bulan.
Mongolia dan China berada di tingkat pertama dalam hal paparan mikroplastik di udara, dengan warga di kedua negara itu menghirup lebih dari 2,8 juta partikel mikroplastik setiap bulan. Inggris berada di peringkat ketiga bersama dengan Irlandia, yang warganya menghirup 791.500 partikel per bulan.
Sebagai pembanding, AS berada di posisi terbawah dalam daftar sama, yakni di posisi 104 dari 109 negara yang disurvei, dengan hanya 10.500 partikel mikroplastik yang terhirup setiap bulannya.
“Dibandingkan dengan konsumsi plastik besar lainnya di Asia, Amerika memiliki tingkat mikroplastik yang lebih rendah namun masih memerlukan perhatian karena dapat meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan plastik,” kata You.
“Situasi ini dapat membaik jika proses daur ulang sampah plastik dan pengelolaan air yang lebih maju diterapkan untuk membatasi pembentukan dan paparan mikroplastik di lingkungan alam dan bahan makanan.” tutup You.


