Another day, another story from tragedi Kanjuruhan…
Setelah dikonfirmasi bahwa petugas yang melempar gas air mata ke tribun benar adanya, baru aja pada Sabtu, 1 Oktober kemarin, Polri mengakui kalau gas air mata yang digunakan saat tragedi kanjuruhan itu sudah kadaluarsa.
Yupp, menurut Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo, kalau senyawa dalam gas air mata itu beda sama yang ada di makanan. Menurutnya, kalau gas air mata udah kadaluarsa, artinya zat kimianya justru semakin menurun, beda dengan makanan yang justru menimbulkan bakteri.
Pak Dedi juga mengutip penelurusan penyidik kalau korban yang ada dalam tragedi Kanjuruhan bukan karena gas air mata, tapi karena kekurangan oksigen. Beliau juga memastikan, kalau gas air ata itu nggak menyebabkan kematian.
Biar semakin yakin, pak Dedi juga mengutip pendapat dari Prof. Made Gegel, seorang guru besar Universitas Udayana yang ahli dalam bidang toksologi atau racun. Dikutip dari sang profesor, kata pak Dedi, bahwa gas air mata dalam skala tinggi pun tidak mematikan.
Sekali lagi beliau menjelaskan, bahwa korban dalam tragedi ini, penyebabnya adalah kehabisan oksigen akibat berdesakan dan terinjak pada pintu 13, pintu 11, pintu 14 dan pintu 3.


