Albania kembali menjadi pusat perhatian setelah aktris terkenal Anila Bisha mengajukan gugatan terhadap pemerintah. Ia menuntut karena wajah dan suaranya digunakan untuk sosok “menteri kecerdasan buatan” bernama Diella tanpa izin. Anila berpendapat bahwa tindakan ini melanggar privasinya, mengingat tidak ada persetujuan yang jelas terkait penggunaannya dalam peran tersebut.
Kasus ini bermula dari pengumuman Perdana Menteri Albania, Edi Rama, yang mengumumkan pembentukan menteri kecerdasan buatan pertama di dunia. Diella, sosok virtual yang diciptakan, diharapkan dapat memastikan bahwa seluruh proses tender pengadaan publik bebas dari korupsi.
Tetapi, belakangan terungkap bahwa wajah dan suara Diella bukan sepenuhnya hasil teknologi komputer. Sumber daya tersebut berasal dari Anila, seorang aktris film dan teater yang populer di Albania. Anila mengaku tidak pernah membayangkan bahwa citranya akan digunakan secara mencolok dalam peran sebagai menteri kecerdasan buatan.
Pada minggu ini, Anila resmi mengajukan permohonan ke pengadilan administrasi Albania untuk meminta pemerintah menghentikan penggunaan wajah dan suaranya untuk karakter Diella. Permohonan ini didasari oleh pelanggaran terhadap hak privasinya.
“Ini adalah langkah hukum pertama untuk mencegah penyalahgunaan citra Anila,” ungkap pengacaranya, Aranit Roshi. Hingga saat ini, pemerintah Albania belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai gugatan tersebut. Anila menjelaskan bahwa sebelumnya ia memang telah menandatangani kontrak yang memungkinkan penggunaan suara dan wajahnya untuk platform daring pemerintah bernama e-Albania.
Platform ini menyediakan berbagai layanan publik bagi masyarakat, namun menurut Bisha, ia tidak pernah diberitahu atau dimintai persetujuan untuk penggunaan citranya sebagai sosok menteri kecerdasan buatan.
“Saya terkejut ketika mendengar perdana menteri mengumumkannya. Saya bertanya bagaimana ini bisa terjadi tanpa sepengetahuan saya, tanpa ada yang menanyakan apakah saya ingin citra saya digunakan atau tidak,” kata Anila kepada The Associated Press pada hari Kamis. Ia menambahkan bahwa saat ini, citranya terasa digunakan untuk tujuan politik.
Diella umumnya digambarkan mengenakan busana tradisional Albania dan dikenal karena sikapnya yang tegas saat menjawab pertanyaan dari pejabat pemerintah. Sejak bergabung dengan kabinet Albania pada bulan September tahun lalu, sosoknya telah menarik perhatian dunia.
Isu mengenai penggunaan suara dalam teknologi kecerdasan buatan bukanlah hal baru yang menimbulkan kontroversi. Pada tahun 2024, OpenAI menarik suara ChatGPT yang bernama Sky setelah Scarlett Johansson, seorang aktris ternama, mengklaim bahwa suara tersebut sangat mirip dengan suaranya. Tetapi, pihak OpenAI menegaskan bahwa suara Sky bukanlah milik Johansson.
Anila menyatakan bahwa sejak Diella bergabung dalam kabinet, ia telah berusaha menghubungi pemerintah untuk mendiskusikan isu ini. Namun, ia mengaku upayanya tidak mendapatkan tanggapan. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil langkah hukum setelah permohonan pertemuannya guna membahas masalah tersebut tidak diindahkan.
Melalui pengadilan administrasi, Anila mengajukan permohonan penetapan sementara (injunksi) agar pemerintah segera menghentikan penggunaan citranya untuk Diella. Di samping itu, perwakilannya juga berencana untuk mengajukan gugatan resmi dengan tuntutan ganti rugi dan kompensasi. “Seseorang tidak bisa begitu saja mengambil identitas orang lain dan memperlakukannya sesuka hati,” tegas Anila.


