Kasus kematian akibat virus Nipah kembali mengguncang India. Seorang pria berusia 52 tahun di negara bagian Kerala dilaporkan meninggal dunia pada 12 Juli 2025. Ini bukan yang pertama sejak 2018, sudah 10 orang di India meninggal akibat virus yang bisa menular dari hewan ke manusia ini.
Karena potensi penyebarannya yang besar, World Health Organization (WHO) menetapkan virus Nipah sebagai penyakit prioritas yang harus diteliti lebih lanjut.
Virus Nipah (NiV) adalah virus zoonotik alias virus yang bisa menular dari hewan ke manusia. Tapi itu belum cukup bikin ngeri, virus ini juga bisa menyebar dari orang ke orang dan bahkan lewat makanan yang terkontaminasi.
Gejalanya bervariasi, mulai dari tanpa gejala sama sekali, gangguan pernapasan, sampai yang paling parah, radang otak (ensefalitis) yang bisa menyebabkan kematian.
Virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1999 di Malaysia. Saat itu, seorang peternak babi menjadi korban pertama. Sejak itu, virus Nipah mulai mewabah ke Bangladesh dan India, menyerang lebih dari 250 orang dan menyebabkan lebih dari 100 kematian.
Kerala, India Selatan, jadi hotspot-nya. Sejak 2018, wilayah ini terus melaporkan kasus hampir setiap tahun. Tahun ini saja, dalam radius 50 km di sekitar Kerala, sudah ada 4 kasus, 2 diantaranya meninggal dunia.
Pemerintah setempat langsung menetapkan siaga tinggi dan mengawasi ketat lebih dari 600 orang di lima distrik.
Virus Nipah diketahui “bersarang” di tubuh kelelawar buah jenis Pteropus, yang ditemukan di banyak negara Asia, termasuk Indonesia. Tapi, para ahli belum sepenuhnya tahu bagaimana virus ini berpindah ke manusia.
“Seseorang bisa saja tanpa sadar bersentuhan dengan kelelawar atau terkena kotorannya,” jelas Thekkumkara Surendran Anish dari Pusat One Health Kerala dalam laporan Al Jazeera.
Yang bikin makin waspada, menurut studi Dewan Riset India (ICMR), virus ini bisa menyebar lewat udara, seperti TBC.
Menurut WHO, gejala virus Nipah biasanya dimulai dari demam, sakit kepala, mual, muntah, hingga sakit tenggorokan. Tapi bisa berkembang jadi gangguan neurologis parah, termasuk radang otak.
Beberapa pasien bahkan mengalami pneumonia berat hingga koma dalam waktu 48 jam. Masa inkubasi virus ini biasanya 4 – 14 hari, tapi ada juga yang bisa mencapai 48 hari.
Tingkat kematiannya bisa sampai 75%, tergantung dari kesiapan sistem kesehatan di daerah terdampak.
Sampai sekarang, belum ada obat khusus buat virus Nipah. Beberapa dokter pakai antivirus spektrum luas seperti Ribavirin, tapi belum ada protokol pengobatan resmi yang disetujui.
Di sisi lain, Universitas Oxford sedang mengembangkan vaksin Nipah dan sudah masuk tahap uji coba manusia sejak awal tahun. Proyek ini didukung skema PRIME dari European Medicines Agency (EMA).
WHO sendiri udah masukin Nipah ke dalam “Blueprint R&D”, daftar penyakit yang berpotensi jadi pandemi dan butuh riset cepat.
Wabah Nipah ini jadi pengingat serius buat kita semua. Penyakit zoonosis seperti ini bisa muncul kapan saja dan di mana saja, termasuk di Indonesia, tempat kelelawar Pteropus juga hidup.
Tanpa pengobatan atau vaksin yang pasti, yang paling penting sekarang adalah deteksi dini, edukasi, dan kesiapsiagaan. Dukungan terhadap riset dan kolaborasi antarnegara jadi kunci buat mencegah pandemi berikutnya.


