Saat ini teknologi di dunia sudah sangat canggih. Bahkan sudah mampu menggantikan peran manusia dalam berbagai pekerjaan. Selaras dengan hal tersebut, beberapa profesi seperti desain grafis dan akuntansi diprediksi akan berangsur menghilang mulai 2030 mendatang, Buzztie.
Hilangnya profesi desain grafis dan akuntansi dalam 5 tahun kedepan ini berdasarkan riset World Economic Forum (WEF) dalam laporan “Future of Jobs Report 2025”.
Kemajuan perangkat lunak desain yang semakin canggih serta ketersediaan template yang mudah diakses memungkinkan siapa saja bisa membuat konten visual yang menarik.
Hal ini tentunya bakal mengurangi permintaan terhadap desainer grafis profesional karena kebutuhan akan kreativitas dapat dipenuhi dengan alat yang lebih praktis dan efisien. Sama halnya dengan desain grafis, profesi akuntan dan auditor juga diprediksi bakal tergerus seiring dengan meningkatnya otomatisasi dalam proses akuntansi.
Perangkat lunak akuntansi yang semakin pintar mampu menyederhanakan tugas-tugas akuntansi yang sebelumnya membutuhkan tenaga kerja manusia. Otomatisasi ini tidak hanya mempercepat proses kerja tetapi juga mengurangi risiko kesalahan, sehingga menurunkan kebutuhan akan akuntan tradisional.
Bahkan bukan hanya desain grafis dan akuntansi, beberapa profesi lain juga terancam hilang di kedepannya akibat digitalisasi dan otomatisasi.
Pekerjaan seperti petugas entri data, kasir, customer service, dan asisten administrasi juga berisiko mengalami penurunan permintaan. Profesi seperti teller bank, staf kebersihan, dan petugas penanganan material juga diperkirakan akan terdampak karena peran mereka bisa digantikan oleh teknologi otomatis.
Laporan WEF ini juga memprediksi bahwa pada tahun 2030, sekitar 92 juta pekerjaan akan hilang di seluruh dunia akibat tren ekonomi makro dan perkembangan teknologi.
Pekerjaan di sektor transportasi umum, manajer layanan bisnis, dan administrator penggajian juga termasuk dalam daftar profesi yang terancam punah. Penelitian ini melibatkan lebih dari 1.000 pengusaha global dari 22 klaster industri dan 55 negara, mewakili lebih dari 14 juta pekerja.
Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana tren teknologi memengaruhi pasar kerja serta strategi yang perlu diterapkan untuk menghadapi perubahan ini.
Dengan prediksi ini, penting bagi tenaga kerja untuk terus meningkatkan keterampilan, khususnya dalam bidang teknologi, agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masa depan.


