Jadi event tahunan, Kartini Go Surf kembali digelar di Pantai Kuta tepatnya di seberang Hotel Whyndam, Kuta, Badung, Minggu (16/4). Gelaran Surfing yang dikemas dengan apik ini menarik perhatian wisatawan. Karena biasanya para peselancar akan menggunakan pakaian renang, tapi kali ini peselancar wanita mengenakan pakaian adat Bali.
Pengagas Kartini Go Surf, Bagus Made Irawan alias Piping mengatakan kalau gelaran ini sekaligus jadi upaya agar pakaian adat Bali bisa dikenal dimata dunia lewat ajang surfing. Karena dia menilai, surfing adalah salah satu olahraga dunia yang bisa menggaet wisatawan. Selain itu, dia juga mengungkapkan kalau gelaran ini adalah salah satu cara untuk menghargai seorang ibu, Buzztie.
“Kartini Go Surf mulai dari tahun 2010 di pantai yang sama, yaitu di Pantai Kuta. Itu cara saya untuk menghargai ibu yang sudah mau mengandung saya selama 9 bulan,” terang Piping saat ditemui di lokasi pada, Minggu sore kemarin. Kegiatan ini menjadi gelaran ke-13 dan gelaran kedua setelah Covid-19. Sehingga, sesuai namanya, gelaran ini diikuti oleh para peserta wanita. Nggak cuma itu, dirinya juga ikut melibatkan peselancar wanita disabilitas tunarungu.
“Saya ingin memberikan mereka kesempatan untuk bisa turut berpartisipasi di dalam gelaran ini,” tambahnya. Setiap tahunnya, peserta Kartini Go Surf dikatakan Piping terus meningkat. Sehingga ia berharap gelaran ini juga bisa menjadi salah satu upaya untuk bisa menghargai seorang wanita. Ia juga mengajak para wanita Indonesia untuk menginspirasi wanita di seluruh dunia agar tidak gentar menjadi peselancar profesional dimana kesempatan itu akan selalu terbuka.
“Saya lelaki, saya juga ingin semua lelaki menghargai semua wanita. Selain itu gelaran ini juga pasti menjadi salah satu upaya untuk dapat menggaet wisatawan di Bali. Ini adalah panggung untuk Bali,” tuturnya. Ditemui dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Corti, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari mengapresiasi gelaran ini. Ia menilai ini merupakan momen kali kedua anak didiknya menjadi peselancar. Saat tahun sebelumnya, kata Agung Mirah hanya melibatkan dua orang saja. Namun, tahun ini bertambah menjadi 5 orang.
“Kami hanya menawarkan saja, bahkan saat ini sudah ada 5 putri yang tertarik dan ikut. Semoga nanti bisa lebih banyak lagi yang berminat setelah dilihat kalau olahraga ini menyenangkan,” tuturnya. Lebih lanjut ia beranggapan berselancar dengan menggunakan pakaian adat Bali bukanlah suatu penghalang. Melainkan, merupakan salah satu identitas Bali yang wajib dikenalkan kepada wisatawan asing.
Meanwhile, when asked about the preparation of his students in surfing, Agung Mirah explained that before surfing, his students had done intensive training. The practice didn’t last long, he explained that they had practiced in advance twice a week.
“Mereka (pihak Piping) sangat ingin berbagi ilmu surfing agar anak-anak tunarungu memiliki keterampilan. Karena pada dasarnya kami ingin menunjukkan bahwa orang tuli atau tunarungu bisa melakukan apa saja seperti orang para umumnya. Jadi kami berikan kesempatan agar mereka menunjukkan kualitasnya,” katanya.
Salah satu siswa dari Sekolah Tuna Rungu Sushrusa, Dwi Utami menerangkan dirinya sangat senang bisa dilibatkan dalam gelaran ini. “Saya sangat senang dan ini pengalaman luar biasa. Bermain surfing sangat seru,” terang Dwi dengan menggunakan bahasa isyarat yang juga dibantu oleh Kepala Sekolah Tuna Rungu Sushrusa, Ni Made Raka Witari untuk menerjemahkan.
Ada banyak cara ya Buzztie, untuk mengenalkan budaya Indonesia khususnya budaya Bali dengan kegiatan yang bisa menarik wisatawan Indonesia maupun mancanegara.


