Rencana pengoperasian trem di Kota Bogor dinilai sebagai langkah strategis dalam membenahi sistem transportasi massal yang lebih tertata dan berkelanjutan. Moda berbasis rel ini dianggap bisa menjawab persoalan kepadatan lalu lintas sekaligus mendorong peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
Pengamat transportasi Yayat Supriatna menilai skema trem cukup efektif karena memiliki kapasitas angkut besar. Menurutnya, jika Kota Bogor menargetkan 60 persen warganya menggunakan transportasi umum, maka kehadiran moda berbasis rel seperti trem menjadi sebuah keharusan.
Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, usai menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kota Bogor dan PT Industri Kereta Api (INKA) di Paseban Suradipati, Balai Kota Bogor, Kamis (11/12). Dedie menyebut kerja sama ini sebagai momentum penting setelah melalui proses panjang dalam upaya menghadirkan transportasi massal yang efisien dan ramah lingkungan di Kota Bogor.
Dalam kesepakatan tersebut, PT INKA bersama PT Transpakuan Bogor sepakat memulai uji coba trem pada rute awal Stasiun Bogor–Alun-alun Kota Bogor. Ke depan, jalur ini direncanakan akan diperluas hingga mencakup koridor satu dengan panjang sekitar 7–8 kilometer.
Yayat menambahkan, pengalaman Jakarta dengan MRT, LRT, dan KRL menjadi bukti kalau transportasi massal berbasis rel mampu meningkatkan mobilitas warga secara signifikan. Kepastian waktu tempuh serta kapasitas angkut yang besar dinilai menjadi alasan kuat mengapa Bogor perlu segera bertransformasi.
Ia juga menyoroti penggunaan teknologi trem modern yang mengandalkan baterai, sehingga tidak membutuhkan kabel listrik di atas jalur. Dua gerbong trem bertenaga baterai bahkan disebut setara dengan kapasitas dua unit bus tanpa perlu penambahan prasarana besar.
“Tinggal memperkuat jaringan jalan, terutama jembatan yang mungkin perlu penyesuaian,” ujarnya, Kamis malam.
Selain fungsi transportasi, konsep trem ini dinilai dapat memperkuat citra Bogor sebagai kota dengan transportasi hijau. Jalur trem yang dirancang melingkari kawasan Kebun Raya Bogor disebut berpotensi menjadi daya tarik wisata tersendiri.
Meski begitu, Yayat mengingatkan bahwa trem hanya akan efektif jika dibarengi kebijakan pengendalian kendaraan pribadi. Ia mencontohkan penerapan sistem ganjil genap di kawasan Sistem Satu Arah (SSA) Kebun Raya, hingga kebijakan jalan berbayar dan tarif parkir tinggi. “Dengan kebijakan push factor, penggunaan kendaraan pribadi bisa ditekan, sementara angkot dapat difungsikan sebagai feeder,” pungkasnya.


