Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru sekolah dasar (SD) di wilayah Jatisari, Jatiasih, Kota Bekasi, sampai saat ini masih bergulir, Buzztie.
Menurut informasi terakhir, predator anak yang “menyusup” menjadi guru SD itu sudah melarikan diri dan belum ditangkap. Kepala Seksi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan SD Disdik Kota Bekasi Sugito menjelaskan, pelaku melarikan diri ketika aksinya diketahui pihak sekolah. Usut punya usut, tenaga pendidik yang melecehkan sejumlah muridnya itu belum kompeten dan belum mendapat gelar sarjana pendidikan.
“Menurut informasi, pelaku ini sedang melanjutkan pendidikan S-1 supaya bisa terus mengajar. Karena pelaku hanya lulusan SMA dan berstatus TKK (tenaga kerja kontrak),” Kata Sugito.
Sugito juga mengatakan, jumlah tenaga pendidik di kota Bekasi sangat minim dan bisa dibilang krisis guru. Hal ini yang bisa menjadi dasar seseorang bisa menjadi tenaga pendidik walaupun belum lulus sarjana.
“Situasi yang mendesak ini, Kota Bekasi krisis guru. Karena memang ada yang pensiun, ada yang meninggal dunia, ada yang tambah rombongan belajar, jadi kekurangan guru itu minimal kami tanggulangi walau masih kurang,” ungkap Sugito.
Because of the findings of this case, his party will evaluate the acceptance of educators. He explained that educators need to have basic skills as teaching staff. So far two elementary school students are suspected of being victims of sexual harassment by the teacher. One of the parents with the initials DI admitted that their daughter had been a victim of harassment since she was still in grade 3 of elementary school.
“Kebetulan sekarang kelas 4. Anak saya mengaku kepada temannya, kalau dia (dilecehkan) waktu kelas 3 SD. Jadi, begitu dia (korban) ditanya sama kakaknya, baru mengaku pernah dilecehkan. Ternyata begitu ditelusuri, masih banyak (korbannya),” ujar DI.
Orangtua dari siswi yang lain, yakni SJ, juga mengungkapkan hal yang sama. Anak SJ yang masih duduk di bangku kelas 2 dilecehkan pada Kamis 3 November lalu. Karena hal itu, anak perempuan SJ mengalami trauma berat.
“Semenjak itu, dia (korban) sudah enggak mau sekolah lagi sampai sekarang, kemarin sempat bilang kalau hari Senin mau sekolah, tapi enggak jadi. Sejak kejadian tanggal 3 November itu, enggak mau sekolah lagi,” tutur SJ.


