By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
NowbuzzNowbuzzNowbuzz
  • National
  • Lifestyle
  • Entertainment
Reading: Pedagang Tradisional Perempuan di Ambon Ditetapkan jadi Warisan Budaya Tak Benda
Share
Font ResizerAa
NowbuzzNowbuzz
Font ResizerAa
  • National
  • Lifestyle
  • Entertainment
Cari
  • National
  • Lifestyle
  • Entertainment
© 2022 Nowbuzz. All Rights Reserved.
Nowbuzz > National > Pedagang Tradisional Perempuan di Ambon Ditetapkan jadi Warisan Budaya Tak Benda

Pedagang Tradisional Perempuan di Ambon Ditetapkan jadi Warisan Budaya Tak Benda

Published October 30, 2025
792 Views
Share
4 Min Read
Keterangan foto: ilustrasi
SHARE

Salah satu tradisi berdagang tradisional paling tua di Kota Ambon, papalele, ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) oleh kementerian Kebudayaan RI. Mama-mama Papalele, merupakan istilah yang merujuk pada profesi berdagang kaum perempuan yang berkeliling kota sambil menjajakan jualan.  

Penetapan papalele sebagai WBTB dalam sidang kementerian kebudayaan RI kepada pemerintah kota Ambon pada Jumat (10/10).   

Papalele, sebuah istilah lokal yang berasal dari kata bahasa Portugis kuno, Papalvo. Ini menggambarkan aktivitas usaha kecil dan perdagangan sederhana, di mana penjual bertemu langsung dengan pembeli. Dalam kebiasaan sejak dulu, mama papalele biasanya berjalan kaki. Ada yang mengenakan kebaya khas pakaian sehari-hari orang Ambon.

Sebagian perempuan dewasa bahkan ada yang tampil maksimal dengan konde khas sambil membawa tagalaya atau bakul berisi beragam jualan yang disunggih, atau dalam bahasa Ambon disebut keku.   

Jualannya beragam. Ada ikan, sayur atau hasil kebun seperti ubi-ubian dan buah-buahan.  Tradisi itu dilakukan turun-temurun dan masih bisa dijumpai di hampir tiap sudut Kota Ambon saat ini.  

Menariknya, profesi mama-mama papalele didominasi kaum perempuan dari daerah gunung yang ada di Ambon.  Salah satunya, Oma Oppa de Fretes (62) asal Negeri Kilang, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon. 

Dia merupakan gerenerasi kedua yang meneruskan tradisi berjualan papalele.

“Dulunya jualan keliling, papalele. Dari sebelum kerusuhan. Sekarang tetap jualan tapi sudah menetap di sini,” ujar Oma Oppa yang kini telah berjualan lebih dari 20 tahun di lorong Gang Pos Kota Ambon.  

Oma Oppa, tampil menarik dan energik mengenakan kebaya merah muda serta berkonde. Dia bercerita bahwa ibunya dulu juga menekuni profesi yang sama dengannya. Barang yang dijual seperti buah-buahan, telur ayam kampung, madu murni serta hasil kebun dari kampungnya, Negeri Kilang, yang berada di kawasan ‘gunung’ Kota Ambon.  

Dia mengaku profesi itu sudah menjadi sumber kehidupan untuk keluarganya. Bahkan, melekat dan menjadi ciri khas dalam dirinya.

Berjualan sambil berkeliling diakuinya bukan hal mudah, apalagi pada usia yang semakin senja. Tetapi ada dedikasi, tradisi dan warisan yang terus dijaga. 

Di Gang Pos, dia tak sendiri. Ada sederet penjual lain yang juga dulunya berkeliling. Namun karena faktor usia dan cuaca mereka memilih menetap di lokasi tersebut.  

“Katong (kami) bangga juga palele ini sudah diakui. Semoga ada perhatian juga dari pemerintah,” harapnya. Oma Oppa mengaku dirinya tidak mengetahui adanya penetapan dari kementerian untuk profesi yang dia jalani. Meski begitu dirinya tetap punya semangat untuk melajutkan profesi warisan itu. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Ambon Christian Tukloy menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas pengakuan ini.  

“Penetapan ini bukan sekadar pengakuan formal semata, melainkan sebuah bentuk penghormatan negara terhadap spirit dan ketangguhan mama-mama papalele,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa para papalele adalah pahlawan ekonomi keluarga yang telah menjaga rantai pasok pangan lokal Ambon sejak zaman kolonial hingga hari ini. Lebih dari sekadar aktivitas jual beli, papalele sesungguhnya adalah warisan budaya tak benda yang mengandung nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kegigihan, kemandirian, serta kemampuan menjalin koneksi personal dan kepercayaan yang kuat antara penjual dan pembeli. Nilai-nilai kemanusiaan ini bahkan terbukti vital dalam menjaga solidaritas sosial Kota Ambon. 

Disparbud Kota Ambon berkomitmen menjadikan status WBTB Nasional ini sebagai momentum untuk melestarikan dan mengembangkan papalele.  

Upaya yang akan dilakukan mencakup pengangkatan papalele sebagai ikon wisata budaya dan ekonomi lokal, perancangan dukungan infrastruktur seperti sentra papalele yang representatif dan layak. Selain itu, mendorong regenerasi nilai dengan mengajak generasi muda Ambon memahami dan menghargai nilai-nilai ketekunan yang diwariskan para Papalele.

“Mama-mama papalele adalah wajah ketahanan Kota Ambon.” “Dengan status WBTB Nasional ini, kami mengajak seluruh masyarakat dan pihak terkait untuk bersama-sama menjaga, melindungi, dan memastikan tradisi Papalele terus hidup dan berdenyut di hati Ibu Kota Provinsi Maluku ini,” tutup Tukloy.

You Might Also Like

Gubernur Bali Ajak Doakan Timnas Israel Dicoret FIFA dari Piala Dunia U-20

Para Penari Disabilitas Tuna Rungu Meriahkan HUT Kota Mojokerto ke 106 Tahun

Saham Boeing Anjlok Imbas dari Kecelakaan Pesawat Jeju Air

Pemkot Makassar Wajibkan Pegawai Naik Ojol Seminggu Sekali

Klarifikasi Metro TV Usai Penulisan Medali “Giveaway” Gregoria

TAGGED:Kota AMbonMama-mama papalelepapaleleWarisan Budaya
Share
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Internet Indonesia Paling Lambat dan Termahal di ASEAN
Next Article Menkeu Buka Hotline “Lapor Pak Purbaya” untuk Menampung Keluhan Masyarakat
Leave a review Leave a review

Leave a Review Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please select a rating!

Berita Terbaru

Lifestyle
LIXIL Pimpin dan Fasilitasi Kolaborasi Lintas Sektor untuk Wujudkan Kualitas Ruang Hidup yang Lebih Baik
April 15, 2026
726 Views
Lifestyle
Green River College, Mengenal Jalur College dan Akses Transfer ke Universitas Top AS
April 6, 2026
745 Views
Uncategorized
Indonesia Sambut Baik Palestina Bentuk Kantor Penghubung untuk Board of Peace
March 30, 2026
716 Views
National
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret
March 30, 2026
742 Views
Lifestyle
Malaysia Tetapkan Durian Musang King sebagai Indikasi Geografis, Negara Lain Tidak Boleh Pakai Nama Ini
March 30, 2026
737 Views
Internasional
Harga Minyak Mentah Dunia Naik Sekitar 5%
March 30, 2026
727 Views
National
XXI Dapat Pendapatan Rp 5,9 Triliun Pada 2025, Ditopang Film Jumbo
March 30, 2026
717 Views
National
Sebanyak 625 Ribu Tiket Kereta Lebaran Ludes Terjual
March 30, 2026
737 Views
Internasional
Indonesia Jadi Salah Satu Negara Paling Aman Jika Perang Dunia Ketiga Terjadi
March 30, 2026
743 Views
Sports
Bali Jadi Tuan Rumah Pembuka Olahraga Ekstrem, Red Bull Cliff Diving World Series 2026
March 30, 2026
709 Views
Show More

Berita Populer

Entertainment
Ariel Noah & Enda Gitaris Ungu Ramaikan Konser di Sarinah
August 31, 2022
2.1k Views
Lifestyle
Apple luncurkan Iphone 14 7 September 2022
August 30, 2022
1.5k Views
National
Viral Grup Facebook Berisi Foto Wanita Penerima Paket dari Kurir
December 14, 2023
2.1k Views
National
Ditolak SPBU, karena beli bensin pakai rupiah baru
August 30, 2022
1.4k Views
Entertainment
5 Film Trilogi Indonesia di Disney+ Hotstar, Drama hingga Horor
August 23, 2022
1.3k Views

Baca berita lainnya

National

Savana Bromo Mulai Menghijau Pasca Kebakaran

October 23, 2023
National

Listrik Padam di Kereta Api Gara-gara Penumpang Masak Nasi

March 9, 2024
National

Brimob Gadungan Sering Ikut Penangkapan Bareng Polisi Asli

February 28, 2023
National

Harga Emas Antam Tembus 2 Juta Per Gram!

April 24, 2025

© 2022 Nowbuzz.co.id. All Rights Reserved

nowbuzz_logo
Selamat Datang Kembali!

Masuk ke akun anda

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up