Jepang, negara asal teh matcha, sedang menghadapi tantangan besar dalam memenuhi permintaan global yang melonjak tajam terhadap minuman hijau khas ini. Meningkatnya popularitas matcha di pasar internasional, khususnya di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Tenggara, membuat kapasitas produksi teh hijau bubuk ini tak lagi mencukupi.
Menurut data dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF), ekspor matcha Jepang meningkat lebih dari 25% dalam lima tahun terakhir. Tapi, laju pertumbuhan ekspor ini tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, terutama karena keterbatasan lahan dan kebutuhan spesifik dalam proses penanaman matcha.
“Permintaan matcha meningkat pesat, namun produksi kami bergantung pada musim, kualitas tanah, dan teknik penanaman yang sangat ketat,” ujar Hiroshi Tanaka, pakar agronomi dari Kyoto University, dalam wawancaranya dengan NHK World Japan.
Matcha bukan sekadar teh biasa. Dibuat dari daun teh tencha yang ditanam di bawah naungan, proses produksinya memakan waktu dan biaya tinggi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Food Science and Technology menyebutkan bahwa “penanaman teh matcha membutuhkan waktu teduhan sekitar 20-30 hari sebelum panen untuk meningkatkan kadar klorofil dan L-theanine, yang memberi rasa khas dan warna hijau cerah pada matcha”.
Permintaan yang tinggi turut menyebabkan meningkatnya harga matcha secara global. Sejumlah pelaku industri makanan dan minuman di luar Jepang kini mulai beralih ke negara produsen alternatif seperti China dan Taiwan, meskipun kualitas matcha dari negara-negara tersebut sering dipertanyakan. Konsumen premium tetap memilih matcha asli Jepang karena kandungan antioksidan dan rasa umaminya yang unik.
“Matcha Jepang memiliki kadar catechin dan polifenol yang lebih tinggi dibandingkan matcha dari negara lain, yang membuatnya lebih unggul dari sisi manfaat kesehatan dan kualitas sensorik,” tulis Wang et al. Dalam penelitiannya.
Pemerintah Jepang kini mendorong diversifikasi area tanam dan penggunaan teknologi pertanian canggih guna mengatasi keterbatasan produksi. Namun, sejumlah pakar menilai butuh waktu beberapa tahun sebelum pasokan bisa benar-benar memenuhi permintaan pasar global yang terus meningkat.


