Cuplikan tayangan dari program hiburan Trans7 mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Perhatian netizen tertuju pada visual karakter fantasi yang dinilai tidak lazim untuk tayangan televisi, bahkan disebut-sebut dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Potongan video tersebut dengan cepat menyebar dan memicu diskusi luas, bukan hanya soal estetika visual, tetapi juga arah baru produksi konten televisi nasional.
Tayangan yang dimaksud berasal dari acara Legenda Bertuah, program yang mengangkat cerita legenda rakyat Indonesia. Acara ini tayang setiap Sabtu dan Minggu pukul 18.00 WIB di Trans7, dan mulai hadir sejak 17 Januari 2026 lalu.
Melalui akun Instagram resminya, Trans7 menegaskan bahwa program ini merupakan tayangan televisi AI realistis pertama di Indonesia, yang menggabungkan kisah Nusantara dengan teknologi kecerdasan buatan.
“Ketika legenda Nusantara bertemu teknologi AI realistis tanpa menghilangkan esensi budaya dan warisan aslinya,” tulis Trans7.
Alih-alih mendapat apresiasi penuh, penggunaan AI justru menuai reaksi beragam dari netizen. Banyak yang membandingkan visual karakter dengan game, animasi digital, hingga platform Roblox.
Komentar bernada satire hingga kritik tajam membanjiri media sosial. Beberapa netizen menilai kualitas visual terlihat kaku, sementara lainnya menyebut pendekatan ini terlalu “hemat biaya” dan kurang menyentuh emosi penonton.
Perbincangan tak berhenti pada visual semata. Publik mulai mempertanyakan apakah AI digunakan demi efisiensi produksi? atau apakah ini akan menggeser peran aktor, animator, dan kru kreatif? hingga apakah cerita legenda akan kehilangan rasa manusiawi jika terlalu bergantung pada teknologi? Sebagian netizen menyebut penggunaan AI berpotensi “memakan pekerjaan talent”, sementara lainnya berpendapat teknologi adalah keniscayaan selama tidak menjiplak karya pihak lain.
Di sisi lain, tidak sedikit netizen yang membela Trans7. Mereka menilai program ini memang sejak awal dikonsep sebagai eksperimen teknologi, bukan pengganti film atau sinetron konvensional. Beberapa komentar bahkan menyebut bahwa inovasi seperti ini bisa menjadi tren baru, seperti yang pernah terjadi pada format acara berbasis konten digital di masa lalu.


