Jika di usia 11 tahun banyak anak-anak masih sibuk bermain game atau menonton YouTube, tapi berbeda dengan DeLiang Al Farabi, Buzztie.
Bocah asal Trenggalek, Jawa Timur, ini justru sudah menulis 40 buku berbahasa Inggris. Bahkan beberapa karyanya masuk dalam daftar Top 15 Amazon Book di Amerika dan Inggris.
Berkat prestasinya tersebut, DeLiang baru-baru ini viral di media sosial setelah videonya yang mengisi webinar dengan bahasa Inggris menyita perhatian publik.
DeLiang memang sering menjadi pembicara dalam webinar untuk membagikan pengalamannya sebagai penulis cilik yang sudah menghasilkan puluhan karya.
Sang ayah, Ario Muhammad mengatakan bahwa bakat menulis DeLiang mulai terlihat sejak usia 6 tahun. Hal ini berawal dari sebuah buku harian berwarna silver yang ia berikan.
Sejak saat itu, DeLiang mulai menulis cerita pendek yang berkembang menjadi buku. Buku pertamanya berjudul DeLiang the Deer. Sementara novel pertamanya adalah A Tale of J: A Dark Winter.
Pada usia tujuh tahun, ia sudah menerbitkan tiga buku ilustrasi dan memperoleh royalti pertamanya sebesar Rp 20 juta saat berusia 10 tahun.
Dua novelnya, A Tale of J: Quirky Friends dan Stories of the Worst Bullies History, berhasil masuk dalam daftar Top 15 Amazon Book di kategori Dark Comedy.
Bahkan, novel fantasinya Rigel: The Last Guardian sempat bertengger di posisi Top 50 Amazon Amerika dan Inggris. Keberhasilan ini semakin menginspirasi DeLiang untuk terus berkarya.
Dalam wawancara bersama Deddy Corbuzier di Close The Door Podcast, DeLiang mengungkapkan bahwa ia menulis buku sebagai wadah untuk menumpahkan imajinasinya.
“Aku bikin buku sendiri supaya aku bisa menumpahkan imajinasiku,” kata DeLiang dalam Close The Door Podcast di Youtube pada Rabu, (31/1).
DeLiang mengaku lebih senang menulis dalam bahasa Inggris. Ia juga menyebut bahwa membaca buku memberinya banyak ide, sehingga ia dapat menulis dengan cepat.
Namun, kecepatan menulisnya justru menjadi tantangan bagi sang ayah dalam menerbitkan karyanya.
“Aku bisa menulis dengan cepat, tapi itu jadi masalah karena ayahku gak bisa ngikutin kecepatanku, makanya kita belum bisa merilis 40 buku itu,” ujar DeLiang sambil bercanda.
Karena regulasi penerbitan di Eropa yang melarang penulis di bawah umur, ayahnya memutuskan untuk menerbitkan buku DeLiang melalui penerbit indie di Amazon.
Selain bakat menulis, DeLiang juga hobi membaca yang diturunkan oleh orang tuanya yang menyukai dunia literasi. Hingga tahun 2023, ia telah membaca sekitar 300 buku.
Lebih lanjut, DeLiang mengatakan bahwa setiap anak memiliki potensi yang luar biasa, hanya saja mereka mungkin belum menyadarinya.
“Mungkin mereka punya sesuatu yang keren tapi mereka belum sadar. Jadi, orang tua mereka harus menggali apa potensi anak mereka,” ujarnya.
Dengan pencapaiannya yang luar biasa di usia muda, tidak heran jika banyak yang menyebut DeLiang Al Farabi sebagai penulis jenius dari Indonesia.


