Viral sebuah video memperlihatkan empat orang remaja bercanda soal Palestina di sebuah restoran makanan cepat saji, Buzztie.
Salah satu remaja perempuan memegang tulang ayam goreng sambil bercanda menyebut ‘tulang anak Palestina’.
“Tulang anak Palestina,” ucap salah satu remaja tersebut.
Kemudian salah satu kawannya ikut menimpali, sambil mencocol saus. “Darah anak Palestina,” timpal remaja lainnya.
Mirisnya, ucapan-ucapan yang keluar dari para remaja itu justru disambut tawa yang mereka anggap lucu. Seketika aksi bercanda sekelompok remaja yang sedang makan itu membuat netizen geram, netizen menilai kelakuan mereka tidak memiliki simpati dan empati sama sekali, Buzztie.
“Astagfirullahaladzim, dimana adab dan perasaanmu kepada sesama,” komentar dari akun @fairuzarafiq
“Jangan gitu mba, saya juga kristen dan katolik malah. Masa kalian pada tega anak-anak Palestina digituin. Seakan-akan senang-senang di atas penderitaan orang lain. Ajaran agama manapun juga nggak mengajarkan kayak gitu,” ujar komentar @dariushalways.
Bahkan salah satu netizen ada yang mengetahui nomor HP dari salah satu remaja dalam video tersebut.
Diketahui, sang perekam dan pengunggah video itu adalah satu siswi yang berasal dari SMPN 216, Jakarta Pusat.
Pihak sekolah SMPN 216 tidak tinggal diam. Mereka langsung memberikan klarifikasi yang diunggah langsung di akun instagram resmi sekolah tersebut.
“Kami dari pihak sekolah sangat menyayangkan dan mengecam perilaku dalam video tersebut,” tulis akun instagram @smpn_216 pada Selasa, 11 Juni 2024.
4 orang yang berada dalam video tersebut bukanlah peserta didik SMPN 216 Jakarta,” lanjutnya.
Tapi, pihak sekolah SMPN 216 membenarkan, kalau yang memvideokan dan memposting serta pemilik akun instastory tersebut merupakan salah satu peserta didik kelas 9 SMPN 216 Jakarta, yang juga teman dari mereka.
Setelah mendalami polemik tersebut, kini pihak sekolah sudah memanggil yang bersangkutan beserta orang tuanya dan mendesak untuk membuat klarifikasi serta permintaan maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan atas perbuatan tersebut.
“Kami pihak sekolah selalu mengajarkan dan menjunjung tinggi sikap toleransi,” ujar pihak sekolah.
Diketahui, kejadian tersebut terjadi di luar jam sekolah pada hari Minggu siang, 9 Juni 2024, setelah mereka pulang dari tempat ibadah dan makan siang di restoran cepat saji.


