Dua pemancing dari Sulawesi Tenggara mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi juara kedua di Turnamen Memancing Internasional Rosatom 2025 yang berlangsung di Kota Aydincik, Provinsi Mersin, Turki pada Rabu, 22 Oktober 2025. Total berat ikan yang berhasil dipancing tim Indonesia yang terdiri atas Mulyadi Umar asal Kota Kendari dan Ajun Inspektur Satu Polisi Hamzah Basri dari Kolaka Utara itu hanya terpaut 400 gram dari Tim Hungaria yang menyabet juara pertama.
Indonesia menjadi peserta kehormatan dalam ajang Turnamen Memancing Internasional Rosatom 2025 ini. Pasalnya, peserta kompetisi ini adalah negara-negara yang memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) atau yang sedang mengembangkan PLTN berkolaborasi dengan perusahaan energi milik negara Rusia tersebut. Turki salah satunya yang sedang membangun PLTN Akkuyu berdaya 4 x 1.200 megawatt.
Ada tujuh negara yang berpartisipasi dalam Turnamen Memancing Internasional Rosartom edisi ketiga ini. Negara-negara itu adalah Afrika Selatan, Hungaria, Indonesia, Kazakstan, Mesir, Uzbekistan, dan Turki. Mesir menjadi juara ketiga di turnamen ini. Adapun Uzbekistan menjadi peraih trofi kategori ikan terbesar yang berhasil ditangkap. Dua edisi turnamen sebelumnya berlangsung di Leningrad, Rusia, yakni pada 2019 dan 2022.
Mulyadi, 43 tahun, aparatur sipil negara (ASN) di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, mengaku terharu dan hampir menitikkan air mata ketika nama Indonesia diumumkan menjadi pemenang kedua turnamen. Yadi, panggilan akrab Mulyadi mengaku hobi memancing sejak kecil. Ia yang lahir di Buton mewarisi darah suku bangsa penjelajah laut dari ayahnya yang berasal dari Pulau Tomia di Kepulauan Wakatobi.
Suami dari Nurbiyah yang juga ASN di Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara itu bergabung dengan klub Ilfiani Fishing Store sejak lebih-kurang tiga tahun yang lalu. Menurut ayah dari La Ode Muhammad Farih Fatahillah ini, pada 2007 ia bergabung dengan klub Kendari Fishing Adventur (KFA). “Saya banyak belajar teknik memancing modern menggunakan joran dan metal jig dari teman-teman KFA,” kata Yadi di penginapannya di Ulu Resort Hotel di Yanisli, Mersin, Kamis 23 Oktober 2025.
Kompatriot Yadi di Turnamen Memancing Internasional Rosatom 2025, Aiptu Hamzah Basri juga tak kalah senang dengan hasil yang diperoleh. Hal pertama yang dikatakan Hamzah yang bertugas sebagai Staf Fungsi Pembinaan Masyarakat di Kepolisian Resor Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara itu, ketika ditanyakan soal perasaannya menjadi juara adalah berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kepolisian Resor Kolaka Utara Polda Sulawesi Tenggara yang telah memberikan kesempatan ikut kompetisi di luar negeri.
“Saya juga mau menyampaikan terima kasih kepada klub memancing saya yang telah memberikan support. Kepada tim Bhayangkara Fishing, Maraja Pancing, dan Rhama Fishing, terima kasih atas dukungannya selama ini,” ujar Hamzah di Ulu Resort Hotel di Yanisli, Mersin, Kamis 23 Oktober 2025.
Hamzah mengaku sebelum bergabung dengan klub memancing, ia belajar teknik pancing secara otodidak. “Kebetulan saya tinggal di sekitar Pantai Lasusua di Kolaka Utara. Tinggal di pinggir laut itu membuat saya menyesuaikan dengan keadaan lingkungan,” tutur suami dari Ibu Icha ini.
Pria kelahiran Makassar 45 tahun yang lalu ini mengatakan beberapa prestasi memancingnya, salah satunya juara kedua pada Fun Fishing Maraja Panjing 2019. Kalau itu, dia berhasil menangkap ikan kerapu seberat 35 kilogram. “Memancing itu lebih besar faktor rezekinya. Alat lengkap dan bagus tapi kalau tidak rezeki juga tidak bisa,” ujar Hamzah yang sebelum memutuskan berangkat ke Turki ini meminta persetujuan dari sang istri.
Sesaat setelah sampai ke darat setelah berada di Laut Mediterania selama kurang-lebih empat jam, Yadi mengungkapkan rahasia kemenangan mereka kepada dua jurnalis Indonesia yang menemaninya di Turki. Menurut Yadi, mereka tidak menggunakan umpan yang diberikan oleh panitia melainkan memakai mainan yang disebut bulu-bulu.
“Kami juga memasang empat mata kail sehingga ketika masuk ke air tidak lama akan dimakan dua sampai tiga ikan sekaligus,” ujarnya.
Menurut Yadi, teknik yang dinamakan rinta dan bottom up ini sudah biasa digunakan oleh para pemancing di Indonesia. Dalam Turnamen Memancing Internasional Rosatom 2025 ini, semua peralatan disediakan oleh panitia. “Ini pakai joran dengan spinning reel, menggunakan benang PE-2,5,” kata Yadi yang tahun lalu menjuarai Kolaka Fishing Tournament.
Adapun Hamzah mengungkapkan kekagumannya terhadap kebersihan perairan di Turki tersebut. “Tidak ada lumpur dan sampah, bersih sekali. Turki memang hebat,” ujar Hamzah yang mengaku kewalahan membalas pesan WhatsApp yang masuk begitu tahu ia menjuarai turnamen memancing tingkat internasional itu.


