Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menjadi tujuan pendidikan dokter spesialis mahasiswa internasional. Tahun ini, dua mahasiswa asal Palestina, Ahmed Eliaan Syakir Abuajwa dan Ibrahim M. M. Abusalem, resmi memulai pendidikan mereka.
Ahmed mengambil Program Studi Spesialis Ilmu Bedah Saraf, sedangkan Ibrahim menempuh Program Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik. Keduanya merasa bangga dapat belajar di universitas bergengsi di Indonesia.
Ahmed mengaku kesempatan ini menjadi kebanggaan besar karena belajar di pusat pendidikan terbaik untuk bidang bedah saraf. Motivasi terbesarnya berasal dari kebutuhan besar dokter bedah saraf di tanah kelahirannya.
“Kami di Gaza sangat membutuhkan ahli di bidang ini,” ujarnya. Kondisi krisis di Palestina membuatnya semakin bertekad menempuh studi hingga selesai.
Ia sadar perjalanan ini berarti meninggalkan Gaza untuk waktu lama hingga benar-benar lulus. “Saya tidak akan kembali ke Palestina sebelum selesai dan membawa bukti kelulusan,” ucapnya.
Kondisi Gaza, menurutnya, sudah diketahui dunia sebagai wilayah krisis kemanusiaan, kelaparan, dan kekurangan air bersih. Infrastruktur rusak parah, termasuk rumah, rumah sakit, sekolah, dan masjid di sekitarnya.
Meski begitu, ia tetap menjaga komunikasi dengan keluarga yang kini berada di pengungsian. Akses komunikasi terbatas, tetapi keluarganya selalu memberi semangat agar ia menyelesaikan studi.
Dr Ibrahim datang ke Surabaya berbekal beasiswa dari Kementerian Kesehatan. Ia memilih UNAIR karena reputasi, kualitas pengajaran, dan kedisiplinan pengajarnya.
“Ini merupakan keistimewaan bagi saya untuk menjadi pelajar di universitas ini,” kata Ibrahim. Ia merasa beruntung mendapat kesempatan tersebut.
Perjalanan pendidikannya panjang, dimulai dari lulus kedokteran di Mesir pada 2018. Ia pernah bekerja di Mesir, Gaza, dan Palestina, serta menempuh pendidikan di Jerman.
Motivasinya jelas, yaitu membantu rakyatnya dengan keahlian yang diperoleh. Baginya, keuntungan pribadi bukanlah prioritas utama.
Ahmed dan Ibrahim memiliki visi sama, kembali ke Gaza untuk mengabdi. Bidang bedah saraf yang mereka tekuni sangat rumit dan memerlukan dedikasi penuh.


