Perusahaan asal China bernama Pang Dong Lai memberlakukan “cuti tidak bahagia” bagi pegawainya yang tengah bersedih.
Umumnya, pegawai mendapatkan cuti dari perusahaan ketika sakit, menikah, melahirkan, atau ada kepentingan urgen lainnya. Pang Dong Lai merupakan perusahaan pengecer yang berdiri sejak Maret 1995 di Provinsi Henan, China.
Perusahaan ini fokus menjual produk-produk ke pusat perbelanjaan besar. Jaringan supermarket yang sudah besar ini menawarkan “cuti tidak bahagia” selama maksimal 10 hari setiap tahun. Izin cuti bahkan bisa dijalankan tanpa persetujuan manajer. Kebijakan ini membuat para pegawai dapat tidak perlu bekerja saat tengah merasa sedih, cemas, patah hati, atau kondisi psikis lainnya.
Kepala perusahaan Pang Dong Lai sekaligus taipan ritel China, Yu Dong Lai menjelaskan alasannya memberikan 10 hari cuti tambahan bagi pegawai yang sedang tidak bahagia.
“Setiap orang mempunyai saat-saat ketika mereka tidak bahagia, jadi jika Anda tidak bahagia, jangan datang bekerja,” ujarnya, diberitakan First Post (16/5).
Yu menegaskan, permohonan cuti tidak bahagia tidak bisa ditolak oleh manajemen. Pihak yang menolak dinyatakan melakukan pelanggaran. Dia meyakini, kebijakan ini akan memberdayakan para pegawai untuk menentukan waktu istirahatnya sendiri.
Karena mereka bebas merencanakan kapan ingin ambil cuti. Tak hanya cuti tidak bahagia, Pang Dong Lai juga mengeluarkan kebijakan agar setiap pegawai hanya bekerja tujuh jam dalam sehari, libur pada akhir pekan, dapat cuti tahunan selama 30-40 hari, dan libur lima hari selama tahun baru Imlek.
“Kami tidak ingin menjadi (perusahaan) besar. Kami ingin karyawan kami memiliki kehidupan yang sehat dan santai sehingga perusahaan juga demikian,” ungkapnya, dikutip dari Business Standard (16/5).
“Kebebasan dan cinta sangat penting,” tegas Yu.
Yu mengecam kebiasaan bos-bos China yang memberlakukan jam kerja panjang dan lembur bagi para pegawai. Kondisi ini dinilai tidak etis dan termasuk perampasan peluang bagi orang lain untuk berkembang. Di sisi lain, perusahaan tersebut juga memberlakukan sistem sertifikasi tingkat pekerja bagi para pegawainya.
Yu menambahkan, petugas kebersihan yang punya kemampuan profesional dalam tingkat tertentu berhak memperoleh penghasilan hingga 500.000 yuan (Rp 1,12 miliar) per tahun.
Kebijakan cuti tidak bahagia yang diterapkan Pang Dong Lai ini untuk menyeimbangkan budaya kerja keras pekerja China. Budaya ini, dinilainya bisa menimbulkan gangguan mental bagi pegawai.
Survei 2021 tentang kecemasan pekerja China menunjukkan, ada lebih dari 65 persen pegawai yang lelah dan tidak bahagia di tempat kerja. Meski begitu, warga China tetap menerapkan budaya kerja yang keras dan melelahkan dengan nama “996”.
Mereka bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama 6 hari seminggu. Gaji rendah, politik di tempat kerja, dan budaya lembur juga lazim berkontribusi terhadap emosi negatif di kalangan pegawai di China. Dilansir dari HR Brew (10/5), Cheung Kong Graduate School of Business melaporkan, 40 persen pekerja China berisiko terkena masalah kesehatan mental.
Ini mungkin disebabkan angka pengangguran dan biaya hidup yang tinggi. Selain itu, pekerja di sana yang berusia antara 18-25 tahun memiliki tingkat kecemasan dan depresi tertinggi dibandingkan generasi lain di tempat kerja.
Untuk melindungi pekerja dari kerja lembur yang tidak dibayar, pemerintah China mempertimbangkan memberikan perlindungan hukum kepada pekerja yang terpaksa tetap online bahkan setelah jam kerja selesai. Kepala kantor umum federasi serikat pekerja China, Lyu Guoquan mendorong Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) membuat pedoman dan kerangka hukum untuk pekerja yang lembur.


