Selama pandemi COVID-19, Orang-orang diwajibkan untuk menggunakan masker. Ternyata kebiasaan itu membuat sebagian orang lupa caranya untuk tersenyum, Buzztie!
Menariknya, di salah satu kelas Keiko Kawano baru-baru ini, puluhan siswa sekolah seni di Tokyo kembali belajar bagaimana cara untuk senyum.
Dilansir dari Reuters, Keiko yang menjadi instruktur senyum mengaku kalau dia mendapatkan lonjakan permintaan untuk mengajarkan bagaimana caranya tersenyum.
Salah seorang siswa, Himawari Yoshida mengatakan kalau dia mengambil kursus tersenyum untuk memperbaiki senyumnya karena akan memasuki pasar kerja.
“Saya tidak banyak menggunakan otot wajah saya selama COVID, jadi ini latihan yang bagus,” kata Himawari Yoshida.
Seperti yang dikutip dari Japan Times, kelas ini secara khusus dilakukan untuk menghadapi era di mana masker tidak diwajibkan untuk digunakan lagi, Buzztie.
Diketahui, pemerintah Jepang telah mencabut pedoman pemakaian masker setelah 3 tahun lamanya. Hal ini yang membuat banyak orang merasa perlu untuk melatih lagi senyuman mereka. Seorang peserta yang berusia 74 tahun, Kyoko Miyamoto mengaku kalau tersenyum adalah hal yang sulit.
“Saya pikir ada ketakutan dan rasa malu dengan gerakan melepas topeng,” kata Miyamimoto setelah pelatihan.
Adapun, kelas latihan ini dilakukan selama satu jam dan tarifnya adalah 7.700 yen atau sekitar Rp822 ribu. Selama pelatihan, para siswa akan bercermin sambil melenturkan berbagai bagian wajah mereka untuk mendapatkan ekspresi kebahagiaan yang paling hangat dan paling cerah.
Metode tersenyum yang diajarkan di kelas ini mempunyai ciri khas dengan ‘mata bulan sabit’,’pipi bundar’, dan membentuk tepi mulut baris atas menjadi delapan mutiara putih. Para siswa juga dapat mencoba teknik mereka di tablet untuk mendapatkan skor pada pada senyum mereka, Buzztie.
Sebagai instruktur, Keiko sudah melatih lebih dari 4.000 orang yang didominasi oleh perempuan untuk membantu banyak orang lebih percaya diri lewat teknik senyuman ‘tulus’ gaya Hollywood.
“Kita semua ingin disukai dan kesan pertama itu akan menjadi sangat penting saat kita melepas topeng kita.”
Karena, secara budaya, orang Jepang tidak terlalu banyak tersenyum dibandingkan orang Barat. Hal ini perlu diubah, mengingat komunikasi dengan orang asing tidak hanya sebatas lewat mata. Tapi juga melalui gestur lainnya.
What do you think, Buzztie?


