By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
NowbuzzNowbuzzNowbuzz
  • National
  • Lifestyle
  • Entertainment
Reading: Aturan Baru China, Konten Kreator Harus Punya Sertifikasi Akademik untuk Bahas Isu Penting
Share
Font ResizerAa
NowbuzzNowbuzz
Font ResizerAa
  • National
  • Lifestyle
  • Entertainment
Cari
  • National
  • Lifestyle
  • Entertainment
© 2022 Nowbuzz. All Rights Reserved.
Nowbuzz > Lifestyle > Aturan Baru China, Konten Kreator Harus Punya Sertifikasi Akademik untuk Bahas Isu Penting

Aturan Baru China, Konten Kreator Harus Punya Sertifikasi Akademik untuk Bahas Isu Penting

Published October 30, 2025
798 Views
Share
4 Min Read
Keterangan foto: ilustrasi
SHARE

Pemerintah China resmi memberlakukan aturan baru yang mewajibkan influencer dan kreator konten memiliki ijazah atau sertifikasi akademik sebelum membahas topik profesional. Kebijakan ini diumumkan pada 10 Oktober 2025 oleh Administrasi Radio dan Televisi Negara (NRTA) bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China. 

Dilansir dari laman resmi nrta.gov.cn, Sabtu (18/10), peraturan tersebut berlaku untuk konten di bidang kedokteran, hukum, keuangan, pendidikan, dan kesehatan. Kelima sektor tersebut dianggap paling rawan penyebaran misinformasi. Berdasarkan aturan baru, setiap platform seperti Douyin (TikTok versi Tiongkok), Bilibili, dan Weibo diwajibkan memverifikasi ijazah atau sertifikat akademik sebelum mengizinkan kreator memublikasikan konten profesional.

Jika melanggar, kreator dapat dikenai denda hingga 100.000 yuan (sekitar Rp 230 juta) atau akun mereka ditutup. Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari langkah nasional untuk menjaga integritas informasi daring dan mencegah penyebaran hoax yang menyesatkan publik. 

Pemerintah menilai, meningkatnya kasus misinformasi selama beberapa tahun terakhir menjadi alasan kuat diberlakukannya aturan baru tersebut. Dikutip dari China Daily, kebijakan ini akan meningkatkan kredibilitas ruang digital sekaligus memperkuat tanggung jawab sosial influencer.

Sebagian menganggap langkah tersebut penting untuk menekan penyebaran hoaks, tetapi tidak sedikit yang menilai ini sebagai pembatasan kebebasan berekspresi. Dilansir dari Reuters, beberapa influencer medis di Beijing mengaku setuju dengan aturan ini karena dapat “membersihkan” ruang daring dari klaim tak berdasar. 

Tapi, kreator kecil tanpa latar akademik formal khawatir kehilangan ruang untuk berbagi pengalaman praktis yang selama ini menjadi sumber inspirasi bagi publik. Tantangan terbesar dari kebijakan ini terletak pada mekanisme verifikasi kredensial.

Dengan lebih dari satu miliar pengguna internet di China, pemeriksaan dokumen akademik jutaan kreator akan memerlukan sistem otomatis dan sumber daya besar. Platform seperti Douyin kini dilaporkan sedang mengembangkan fitur verifikasi internal untuk mengunggah sertifikat pendidikan. 

South China Morning Post menyebut uji coba sistem ini sudah dilakukan sejak awal Oktober di beberapa wilayah termasuk Shanghai dan Guangzhou. Tetapi, sejumlah akademisi memperingatkan agar pemerintah berhati-hati dalam menafsirkan apa yang dimaksud dengan “topik profesional.” 

Beberapa bidang seperti gizi, psikologi populer, atau kewirausahaan sering kali berbasis pengalaman dan tidak selalu membutuhkan gelar akademik formal.

Sejumlah kreator di China mulai menghapus atau mengubah tema konten mereka agar tidak melanggar regulasi baru. Sementara itu, perusahaan konten besar atau multi-channel network (MCN) justru diuntungkan karena memiliki sumber daya untuk memenuhi persyaratan tersebut. 

Dalam laporan China Media Project, pemerintah juga sedang memperketat pengawasan terhadap MCN agar konten yang mereka hasilkan berorientasi pada nilai sosial yang benar. Hal ini menandakan bahwa kontrol terhadap narasi daring kini semakin terpusat.

Meski begitu, banyak pihak menilai kebijakan ini akan meningkatkan profesionalisme dalam ekosistem digital China. Dengan adanya verifikasi kredensial, pengguna dapat lebih percaya terhadap sumber informasi di internet. 

Tetapi disisi lain, beberapa analis kebijakan media memperingatkan risiko meningkatnya kesenjangan digital. Kreator tanpa latar belakang formal dikhawatirkan bakal tersingkir dari ruang publik, padahal mereka sering menjadi sumber inovasi dan perspektif alternatif. Regulasi serupa sebenarnya sudah pernah diberlakukan pada tahun 2022 untuk pembawa acara siaran langsung.

Saat itu, pemerintah mewajibkan pembawa acara yang membahas topik medis, hukum, dan keuangan untuk memiliki sertifikasi resmi. Langkah 2025 ini dianggap sebagai perluasan dari regulasi tersebut dengan cakupan yang lebih luas. Aturan kali ini juga menyasar konten yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan video profesional.

Meski mendapat kritik, pemerintah China menegaskan bahwa kebijakan ini bukan bentuk pembatasan ekspresi, melainkan upaya melindungi publik dari informasi yang menyesatkan. Pemerintah berjanji untuk meninjau ulang efektivitasnya secara berkala setelah masa implementasi awal.

You Might Also Like

WhatsApp Uji Coba Fitur Edit Foto Baru Mirip Instagram Stories

Telegram Punya Fitur Baru, Bisa Translate Isi Chat Real Time

Menang Lotre, Gadis Ini Lebih Memilih Dapat Rp16 Juta Setiap Minggu Seumur Hidup Dibanding Rp16 Miliar Tunai

WhatsApp Uji Fitur Kunci Chat Tertentu, Bantu Hindari Orang Kepo

Barang Produksi AS Diisukan Bebas TKDN, iPhone Berpotensi akan Lebih Murah

TAGGED:ChinaContent CreatorSertifikasi resmi
Share
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article OpenAI Rilis ChatGPT Atlas, Browser yang Terintegrasi dengan ChatGPT
Next Article Paspor Malaysia Kini Setara dengan AS, Jadi Paspor Terkuat ke-12 di Dunia
Leave a review Leave a review

Leave a Review Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please select a rating!

Berita Terbaru

Internasional
Green River College Hadirkan Hunian Modern dan Sistem Keamanan Terpadu
April 25, 2026
704 Views
National
23 Juta Jam Kerja Aman Tanpa Kecelakaan, PT Tracon Industri Memperkuat Implementasi HSE Berstandar Internasional
April 23, 2026
715 Views
Lifestyle
LIXIL Pimpin dan Fasilitasi Kolaborasi Lintas Sektor untuk Wujudkan Kualitas Ruang Hidup yang Lebih Baik
April 15, 2026
745 Views
Lifestyle
Green River College, Mengenal Jalur College dan Akses Transfer ke Universitas Top AS
April 6, 2026
757 Views
Uncategorized
Indonesia Sambut Baik Palestina Bentuk Kantor Penghubung untuk Board of Peace
March 30, 2026
723 Views
National
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret
March 30, 2026
754 Views
Lifestyle
Malaysia Tetapkan Durian Musang King sebagai Indikasi Geografis, Negara Lain Tidak Boleh Pakai Nama Ini
March 30, 2026
753 Views
Internasional
Harga Minyak Mentah Dunia Naik Sekitar 5%
March 30, 2026
732 Views
National
XXI Dapat Pendapatan Rp 5,9 Triliun Pada 2025, Ditopang Film Jumbo
March 30, 2026
723 Views
National
Sebanyak 625 Ribu Tiket Kereta Lebaran Ludes Terjual
March 30, 2026
751 Views
Show More

Berita Populer

Entertainment
Ariel Noah & Enda Gitaris Ungu Ramaikan Konser di Sarinah
August 31, 2022
2.2k Views
Lifestyle
Apple luncurkan Iphone 14 7 September 2022
August 30, 2022
1.5k Views
National
Viral Grup Facebook Berisi Foto Wanita Penerima Paket dari Kurir
December 14, 2023
2.1k Views
National
Ditolak SPBU, karena beli bensin pakai rupiah baru
August 30, 2022
1.4k Views
Entertainment
5 Film Trilogi Indonesia di Disney+ Hotstar, Drama hingga Horor
August 23, 2022
1.3k Views

Baca berita lainnya

Lifestyle

Teknologi Taksi Tanpa Sopir Dikembangkan di China, Beroperasi 2025

April 17, 2023
Technology

Orion, Kacamata AR Pertama yang Berbasis AI

October 2, 2024
InternasionalTechnology

Diduga Blokir Konten YouTube, Rusia Tuntut Google Sebesar USD20 Desiliun

November 15, 2024
Lifestyle

Tampilan Baru Google Maps Dirujak Netizen

December 10, 2023

© 2022 Nowbuzz.co.id. All Rights Reserved

nowbuzz_logo
Selamat Datang Kembali!

Masuk ke akun anda

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up