Astrofotografi terus menghadirkan kejutan baru berkat inovasi para pembuatnya. Tetapi, kemarin menjadi momen bersejarah ketika standar visual itu terangkat beberapa tingkat sekaligus.
Sebagaimana diberitakan IFL Science, Sabtu (15/11), kolaborasi astrofotografer Andrew McCarthy dengan penerjun payung Gabriel C. Brown menghasilkan potret yang menakjubkan dan belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Karya berjudul “The Fall of Icarus” itu menampilkan siluet Brown yang sedang meluncur di depan citra Matahari dalam spektrum hidrogen alfa.
Panjang gelombang tersebut memperlihatkan lapisan hidrogen turbulen yang berada tepat di atas permukaan bintang kita. Siluet sang penerjun tampak tegas, membingkai jalur jatuhnya di antara bintik-bintik matahari yang merupakan area aktif dengan suhu lebih rendah dibanding sekitarnya.
Hasil akhirnya bukan sekadar indah, melainkan sebuah mahakarya teknis dan artistik.
McCarthy mengungkap kepada IFL Science bahwa ide ini muncul setelah keduanya bertemu dalam sesi terjun payung beberapa bulan lalu. Dari obrolan sarapan, mereka mulai merangkai gagasan gila menggabungkan aksi terjun paramotor dengan teknik astrofotografi berpresisi tinggi.
Meski terdengar sederhana, eksekusinya jauh dari kata mudah. McCarthy, Brown, dan pilot paramotor harus menyelaraskan posisi secara presisi melalui komunikasi berulang agar komposisi gambar sesuai rencana. “Itu sangat rumit,” kata McCarthy.
Ia memasang beberapa kamera dan melakukan panggilan tiga arah dengan pilot dan Brown.
Sang pilot memantau bayangannya ketika menanjak. Saat bayangannya diperkirakan sejajar dengan posisi pemotretan, ia mematikan mesin dan meluncur melewati Matahari, sementara McCarthy memberi instruksi langsung saat siluet mulai terlihat. Setelah enam kali percobaan, barulah mereka mendapatkan posisi sempurna tepat ketika siluet penerjun sejajar dengan bintik matahari. Brown lewat unggahan Instagram-nya juga menunjukkan serangkaian gangguan teknis pada lima percobaan awal. Tetapi kegigihan mereka terbayar lunas. Hasil akhirnya benar-benar memukau.
Dilansir dari Times of India, Sabtu (15/11), kekuatan ilusi ini terletak pada skalanya. Brown terjun dari pesawat kecil di ketinggian sekitar 3.500 kaki, sementara McCarthy berada kurang lebih 8.000 kaki dari lokasi penerjunan. Enam kali pesawat harus melintasi jalur yang tepat sebelum Brown melakukan lompatan aktual.
Dalam kesempatan satu-satunya itu sebelum parasut harus dipasang ulang. McCarthy melihat figur kecil itu memasuki bingkai kameranya, tepat saat matahari menyala di belakangnya. Video proses pengambilan gambar yang dibagikan di media sosial mempertontonkan reaksi keduanya.
McCarthy dan Brown terkejut, lega, dan tak percaya kalau mereka berhasil menangkap momen sekilas tersebut. Dari sudut pandang kamera, Brown terlihat seolah melayang di depan permukaan matahari, menciptakan gambar yang terasa mustahil namun sepenuhnya nyata secara teknis.
Kemiripan visualnya dengan kisah Icarus tidak dapat diabaikan. Dalam legenda, Icarus terbang terlalu dekat ke matahari hingga sayapnya meleleh, menyebabkan ia terjatuh. Foto McCarthy menggema dengan nuansa itu, sebuah sosok manusia yang tampak sendirian di hadapan bola api raksasa.
Tapi foto tersebut dihasilkan melalui teknologi modern, bukan lewat sapuan kuas pelukis. Foto ini juga menunjukkan bagaimana astrofotografi dapat mendorong batas-batas imajinasi.
Matahari ditangkap dengan filter khusus dan kecepatan tinggi, menampilkan tekstur yang seolah dapat disentuh, sementara siluet skydiver memberikan skala dan drama.
McCarthy, yang sebelumnya pernah merekam Stasiun Luar Angkasa Internasional melintas di atas flare matahari dan roket SpaceX menyeberangi cakram surya.
Ia menyebut foto “The Fall of Icarus” masuk lima terbaik sepanjang kariernya. Bagi McCarthy, momen singkat itu kini membeku dalam satu bingkai, menghadirkan refleksi manusia di tengah mekanisme semesta yang jauh lebih besar.


