Fenomena aurora yaitu tampilan cahaya alami di langit malam, yang juga biasa disebut Aurora Borealis (Northern Lights) di belahan bumi utara dan Aurora Australis di selatan.
Fenomena ini diprediksi bakal menjadi salah satu sorotan astronomi terbesar sepanjang tahun 2026.
Beragam laporan dan prediksi ilmiah menyebutkan bahwa aurora pada 2026 bisa lebih terang dan elok dibandingkan beberapa tahun terakhir dan bahkan mungkin menjadi salah satu yang paling spektakuler dalam sekitar satu dekade terakhir.
Fenomena aurora erat kaitannya dengan aktivitas matahari dan solar cycle (siklus matahari) yang berlangsung sekitar 11 tahun sekali, di mana puncak aktivitas disebut solar maximum.
Selama fase ini jumlah sunspot (bintik matahari), flare (letusan energi), dan CME (coronal mass ejections atau semburan partikel bermuatan) meningkat drastis, menghasilkan badai geomagnetik yang kuat ketika mencapai Bumi.
Siklus Matahari ke-25 yang mencapai puncaknya sekitar tahun 2024–2025, belum sepenuhnya mereda di awal 2026.
Sehingga meskipun matahari mulai memasuki fase penurunan menuju solar minimum, aktivitas solar yang tersisa masih mampu menghasilkan aurora yang sangat intens.
Bahkan, beberapa pakar menyebut 2026 berpotensi memperlihatkan salah satu periode aurora paling terang dalam 11 tahun terakhir, khususnya pada beberapa puncak badai geomagnetik yang kuat.
Salah satu contoh fenomena aurora yang luar biasa terjadi pada 19-20 Januari 2026.
Ketika badai geomagnetik kuat yang dipicu oleh sebuah CME menyentuh Bumi dan menghasilkan tampilan aurora yang sangat terang di wilayah yang tidak biasa, termasuk di beberapa negara Eropa dan wilayah utara A.S.
Laporan foto amatir menunjukkan aurora yang mencapai langit malam dengan warna-warna cerah.
Para ilmuwan dan pengamat langit pun mencatat bahwa meskipun secara matematis matahari mulai melemah dari puncaknya, periode transisi seperti ini sering kali menghasilkan “last gasp”, yakni letusan terakhir yang besar sebelum masa tenang total tiba.
Periode ini bisa berlangsung hingga beberapa tahun setelah puncak siklus, sehingga memberi peluang yang sangat baik untuk fenomena aurora.
Prediksi dari berbagai sumber astronomi menunjukkan polanya sebagai berikut selama 2026:
1. Awal Tahun (Januari – Maret): peluang sangat tinggi aurora monumental, terutama sekitar equinox musim semi di belahan utara.
2. Musim Gugur (September – November): aktivitas geomagnetik tetap layak untuk aurora, terutama di lintang tinggi seperti Islandia, Norwegia, Kanada Utara, dan Alaska.
3. Lokasi Terbaik: wilayah dalam “auroral oval” di sekitar Arktik menjadi tempat paling menjanjikan, meskipun badai besar juga bisa membuat aurora terlihat jauh ke selatan dari biasanya.
Meski tidak ada jaminan aurora akan terlihat dari lokasi tertentu setiap malam, 2026 tetap diprediksi menjadi salah satu tahun fenomenal untuk melihat aurora, baik dari sisi frekuensi, warna, maupun intensitas cahayanya berkat sisa aktivitas dari siklus matahari yang kuat.
Para ahli mengimbau penggemar astronomi untuk memanfaatkan periode puncak geomagnetik tersebut dengan merencanakan pengamatan di lokasi dengan langit gelap dan kondisi cuaca yang bersahabat.


